Wednesday, February 28, 2018

Materi Dasar Paskibra Sekolah tingkat SMP, SMA, dan SMK

Materi paskibra - SMA YADIKA 3 Karang Tengah
SMA YADIKA 3 Karang Tengah

Lihat:

Hampir semua sekolah di kotamu sudah memiliki paskibra.

Jika kamu juga ingin ikut paskibra namun di sekolahmu belum ada paskibra, mending kamu mulai membangun paskibra.

Materi paskibra saja saya tidak tau. Gimana mau buat coba.

Tenang. Saya punya garis besar materinya.

Namun sebelum itu, kita perlu tau bagaimana sih sejarah terbentuknya Paskibraka itu.

Dilansir dari Wikipedia, Gagasan Paskibraka lahir pada tahun 1946, pada saat ibukota Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta.

Memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-1, Presiden Soekarno memerintahkan salah satu ajudannya, Mayor (Laut) Husein Mutahar, untuk menyiapkan pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta.

Pada saat itulah, di benak Mutahar terlintas suatu gagasan bahwa sebaiknya pengibaran bendera pusaka dilakukan oleh para pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air, karena mereka adalah generasi penerus perjuangan bangsa yang bertugas.

Tetapi, karena gagasan itu tidak mungkin terlaksana, maka Mutahar hanya bisa menghadirkan lima orang pemuda (3 putra dan 2 putri) yang berasal dari berbagai daerah dan kebetulan sedang berada di Yogyakarta.

Lima orang tersebut melambangkan Pancasila.

Sejak itu, sampai tahun 1949, pengibaran bendera di Yogyakarta tetap dilaksanakan dengan cara yang sama.

Ketika Ibukota dikembalikan ke Jakarta pada tahun 1950, Mutahar tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka.

Pengibaran bendera pusaka pada setiap 17 Agustus di Istana Merdeka dilaksanakan oleh Rumah Tangga Kepresidenan sampai tahun 1966.

Selama periode itu, para pengibar bendera diambil dari para pelajar dan mahasiswa yang ada di Jakarta.

Tahun 1967, Husein Mutahar dipanggil presiden saat itu, Soeharto, untuk menangani lagi masalah pengibaran bendera pusaka. Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta, dia kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok yang dinamai sesuai jumlah anggotanya, yaitu:

  • Pasukan 17 / pengiring (pemandu),
  • Pasukan 8 / pembawa bendera (inti),
  • Pasukan 45/pengawal.

Jumlah tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 (17-8-45).

Pada waktu itu dengan situasi kondisi yang ada, Mutahar hanya melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas pengibaran bendera pusaka.

Rencana semula, untuk kelompok 45 (pengawal) akan terdiri dari para mahasiswa AKABRI (Generasi Muda ABRI) namun tidak dapat dilaksanakan.

Usul lain menggunakan anggota pasukan khusus ABRI (seperti RPKAD, PGT, KKO, dan Brimob) juga tidak mudah.

Akhirnya diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang mudah dihubungi karena mereka bertugas di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta.

Materi dasar paskibra

Mulai tanggal 17 Agustus 1968, petugas pengibar bendera pusaka adalah para pemuda utusan provinsi.

Tetapi karena belum seluruh provinsi mengirimkan utusan sehingga masih harus ditambah oleh eks-anggota pasukan tahun 1967.

Pada tanggal 5 Agustus 1969, di Istana Negara Jakarta berlangsung upacara penyerahan duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan reproduksi Naskah Proklamasi oleh Suharto kepada Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I seluruh Indonesia.

Bendera duplikat (yang terdiri dari 6 carik kain) mulai dikibarkan menggantikan Bendera Pusaka pada peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1969 di Istana Merdeka Jakarta, sedangkan Bendera Pusaka bertugas mengantar dan menjemput bendera duplikat yang dikibar/diturunkan.

Mulai tahun 1969 itu, anggota pengibar bendera pusaka adalah para remaja siswa SLTA se-tanah air Indonesia yang merupakan utusan dari seluruh provinsi di Indonesia, dan tiap provinsi diwakili oleh sepasang remaja putra dan putri.

Istilah yang digunakan dari tahun 1967 sampai tahun 1972 masih Pasukan Pengerek Bendera Pusaka.

Baru pada tahun 1973, Idik Sulaeman melontarkan suatu nama untuk Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan Paskibraka.

PAS berasal dari PASukan, KIB berasal dari KIBar mengandung pengertian pengibar, RA berarti bendeRA dan KA berarti PusaKA.

Mulai saat itu, anggota pengibar bendera pusaka disebut Paskibraka.

Sekarang mari kita injak masalah pokoknya.

Materi Paskibra Sekolah


Materi dasar paskibra itu terdiri dari:

  • Peraturan Baris Berbaris
  • Tata Upacara Bendera

Nah saya akan jelaskan tentang 2 hal itu dulu.

Soal kepemimpinan nanti kamu bisa belajar bersama teman-temanmu.

Dan soal administrasinya kamu bisa konsultasikan ke orang sekolahmu.

Materi Dasar PBB


Materi dasar PBB
https://www.instagram.com/nurullahalif/

Pada dasarnya Paskibraka (Pasukan Pengibar Bendera Pusaka) dibentuk dengan tujuan untuk mengibarkan duplikat bendera pusaka dalam upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia di 3 tempat, yakni tingkat Kabupaten/Kota (Kantor Wali Kota/Bupati), Provinsi (Kantor Gubernur), dan Nasional (Istana Merdeka).

Anggotanya berasal dari pelajar SMA Sederajat kelas 1 atau 2.

Penyeleksian anggotanya biasanya dilakukan sekitar bulan April untuk persiapan pengibaran pada 17 Agustus.

Selama masa seleksi sampai 16 Agustus, seorang anggota calon Paskibraka dinamakan "CAPASKA" atau Calon Paskibraka. Pada waktu penugasan 17 Agustus, anggota dinamakan "PASKIBRAKA", dan setelah 17 Agustus, dinamakan "PURNA PASKIBRAKA".

Tingkatan Paskibraka ada tiga yaitu:

  • Paskibraka Nasional - bertugas di Istana Negara
  • Paskibraka Propinsi - bertugas di Pusat pemerintahan gubernur propinsi
  • Paskibraka Kota - bertugas di Pusat pemerintahan wali kota/kabupaten

Dalam melaksanakan tugas-tugasnya, seorang paskibra dibekali materi baris-berbaris.

Yang standar atau yang sering didenger orang adalah siap gerak, istirahat ditempat gerak, hormat gerak, maju jalan, dan langkah tegap.

Namun, kenyataannya masih banyak yang lain.

Kamu bisa langsung menuju konten saya, tentang aba-aba PBB untuk mempelajarinya lebih lanjut.

Note: Sampai sekarang, konten itu masih terus diperbarui.

Materi Dasar TUB


Materi dasar TUB

Bukan hanya pengetahuan soal baris-berbaris seorang paskibra juga mempelajari bagaimana caranya melangsungkan sebuah upacara bendera.

Sebelum belajar TUB, pebaris seringnya belajar PBB terlebih dahulu agar ketika diajari tidak bingun.

Apa saja yang dipelajari dan perlu diketahui?

Petugas dan tugas-tugasnya.

(Kalau salah silakan dikoreksi. Kalau kurang monggo ditambahi.)

Pengatur: Yang melakukan laporan sebelum dan sesudah pembina atau inspektur upacara menuju mimbar.

Pemimpin upacara: Yang biasanya ada di tengah lapangan, tugasnya adalah memimpin jalannya upacara.

Ajudan: Yang mendampingi pembina dan membawa dokumen yang diperlukan. Biasanya teks Pancasila.

3 orang pengibar bendera (pembentang, pengerek, pembawa): sudah taulah yang ini ngapain.

Komandan pleton: Yang biasanya memberikan laporan kepada pemimpin upacara sebelum upacara berlangsung.

Pembaca doa, pembaca teks pembukaan UUD 1945.

Nah bagaimana pelaksanaannya?

Satu saran yang pasti, mending daripada searching di Google gimana caranya TUB yang benar, kamu ngajak temenmu ke koramil atau kodim terdekat.

...minta tolong diajari soal bagaimana upacara yang benar dan bisa dijadikan juga untuk belajar bagaimana caranya bela negara.

Bener?

Salah mas.

Hahaha.

Oya, sekarang PBB yang berlaku adalah bersumber dari Peraturan Panglima TNI nomor 46 tahun 2014.

Selesai


Untuk yang pengen download softfilenya, buku panduan atau apalah, tunggu dulu ya. Ntar saya kasih lewat tulisan-tulisan di bawah ini.

Versi:
pdf document
power point

Kalau ada tambahan atau referensi, silakan tambahkan lewat komentar.

Saya merasa senang jika kamu melengkapi konten ini.

Terima kasih.

Sunday, January 7, 2018

Pentingnya Rangkap Jabatan untuk Menjadi Terbelakang

Kecurangan lomba PBB

Alkisah,

Suatu hari ada pertandingan bola antar kampung, kampung A dan kampung B.

Pertandingan berjalan dengan seru dari menit pertama sampai menit ke-30-an.

Setelah itu, pertandingan menjadi ribut lantaran "bola sudah melewati garis gawang".

Kampung A merasa bahwa bola sudah melewati garis gawang, namun kampung B merasa bahwa itu belum gol lantaran bola belum melewati garis gawang.

Oentung, yang merupakan wasit pertandingan turun tangan.

Karena tidak ada hakim garis, dia tanya pada orang yang ada di dekat gawang.

"Gimana, tadi masuk nggak?", tanya Oentung.

"Masuk pak sit.", jawab orang itu.

"Yaudah berarti Gol untuk kampung A.", ucap Oentung sebagai sebuah keputusan yang disambut sorak sorai kampung A dan pendukungnya.

Apakah keputusan Oentung benar?

Tidak.

Oentung itu bertanya sama orang yang sedang jualan di pinggir lapangan. Orang jualan yang nggagas jualannya, bola mah urusan belakang yang penting laris manis.

Harusnya Oentung tanya sama tu garis gawang, "Ris-garis, tadi bolane nglewatin kamu ndak?"

"Iya om. Bolanya nglewatin aku. Aku tadi ngedance dikit, trus aku jadi nggendut. Pas aku nggendut bolane udah lewat.", si Line menjawab.

Tapi kentang sudah menjadi bergedel.

Skor sudah 1-0 dan si Oentung ndak dipercaya lagi oleh kampung A.

Maaf yaaa... Ente pinter sih tanyanya sama orang yang salah.

Dia hakim garis?

Hhaha.

Wednesday, December 13, 2017

Alergi Kalah, Haruskah Paskibra selalu Juara?

Alergi kalah
Pleton SMA YADIKA 3 Karang Tengah

Saya sering melihat dan mendengar pelatih paskibra berkata soal cita-citanya memenangkan pasukan yang dilatihnya di sebuah ajang lomba PBB.

Dan mereka tidak main-main, mereka mencari materi-materi tentang cara memenangkan lomba PBB itu di internet.

Setelah menemukan artikel tutorial PBB mereka mencoba mengaplikasikannya. Atau setelah menemukan video variasi yang cocok mereka langsung menjiplaknya.

WAW!

Menjiplaknya.

Tapi saya ndak mau mbahas masalah jiplak-menjiplak ini, saya hanya tertarik pada hal-hal yang memicu hal ini terjadi.

Dan hal yang paling besar, yang paling berpengaruh terhadap tindakan ini adalah alergi kalah.

Kalah itu memalukan.

...katanya.

Kenapa? Karena pasti banyak akan ejekan dari pangkalan lain, kompetitor, rival, atau apalah itu namanya jika menelan kekalahan.

Tapi, taukah kamu jika kamu dan pangkalanmu kalah maka itu adalah sebuah anugerah.

Anugerah kalah jauh lebih berharga daripada anugerah kemenangan.

Dengan kekalahan, kita sebagai seorang paskibra bisa mengintropeksi jauh lebih dalam dan intens ketimbang mereka yang menang.

Sangat sedikit pangkalan yang melakukan intropeksi saat mereka mendapatkan kemenangan. Rata-ratanya sih udah pada jalan ndangak pas pulang.

Saya sering bertanya-jawab dengan diri saya kurang lebih begini....

"Kita sudah menang. Kita sudah dipuncak. Lalu, apa yang kita lakukan setelah ini? Ikut lomba, lomba, dan lomba lagi? Sampai capek dan hanya berakhir dengan puluhan piala, uang pembinaan, dan kebanggaan yang tidak dapat dijual di saat butuh beras? Atau sampai dapat ratusan like, viewers, dan follower di jejaring sosial?"

"Tidak. Jangan begitu. Kita harus mencari sesuatu yang baru dan berjuang kembali dari nol di sana. Apa itu?"

"Pengembangan diri dan pendidikan karakter adek-adek. Ini bisa bermanfaat bagi mereka kedepannya daripada cuma praktek baris. Menang lomba bukan fokus utama lagi. Karena jikapun menang itu sudah biasa. Ini tahap lanjut setelah selalu menang. Ya, walaupun ini sangat samar dan susah."

"Beruntung juga, bagi mereka yang belum pernah menang sekalipun. Mereka tidak perlu bingung mau ngapain. Targetnya menang. Dalam perjalanan mereka ini, mereka lebih banyak belajar ketimbang yang satu dua kali maju sudah dapat kemenangan. Dan yang perlu digaris bawahi, apa yang mereka dapatkan selama proses ini adalah anugerah. Tuhan itu adil."

Hmm...

Bagaimana? Masih ingin selalu menang?

Saya rasa masih.

Terserah aja deh....