Sunday, January 7, 2018

Pentingnya Rangkap Jabatan untuk Menjadi Terbelakang

Kecurangan lomba PBB

Alkisah,

Suatu hari ada pertandingan bola antar kampung, kampung A dan kampung B.

Pertandingan berjalan dengan seru dari menit pertama sampai menit ke-30-an.

Setelah itu, pertandingan menjadi ribut lantaran "bola sudah melewati garis gawang".

Kampung A merasa bahwa bola sudah melewati garis gawang, namun kampung B merasa bahwa itu belum gol lantaran bola belum melewati garis gawang.

Oentung, yang merupakan wasit pertandingan turun tangan.

Karena tidak ada hakim garis, dia tanya pada orang yang ada di dekat gawang.

"Gimana, tadi masuk nggak?", tanya Oentung.

"Masuk pak sit.", jawab orang itu.

"Yaudah berarti Gol untuk kampung A.", ucap Oentung sebagai sebuah keputusan yang disambut sorak sorai kampung A dan pendukungnya.

Apakah keputusan Oentung benar?

Tidak.

Oentung itu bertanya sama orang yang sedang jualan di pinggir lapangan. Orang jualan yang nggagas jualannya, bola mah urusan belakang yang penting laris manis.

Harusnya Oentung tanya sama tu garis gawang, "Ris-garis, tadi bolane nglewatin kamu ndak?"

"Iya om. Bolanya nglewatin aku. Aku tadi ngedance dikit, trus aku jadi nggendut. Pas aku nggendut bolane udah lewat.", si Line menjawab.

Tapi kentang sudah menjadi bergedel.

Skor sudah 1-0 dan si Oentung ndak dipercaya lagi oleh kampung A.

Maaf yaaa... Ente pinter sih tanyanya sama orang yang salah.

Dia hakim garis?

Hhaha.

Wednesday, December 13, 2017

Alergi Kalah, Haruskah Paskibra selalu Juara?

Alergi kalah
Pleton SMA YADIKA 3 Karang Tengah

Saya sering melihat dan mendengar pelatih paskibra berkata soal cita-citanya memenangkan pasukan yang dilatihnya di sebuah ajang lomba PBB.

Dan mereka tidak main-main, mereka mencari materi-materi tentang cara memenangkan lomba PBB itu di internet.

Setelah menemukan artikel tutorial PBB mereka mencoba mengaplikasikannya. Atau setelah menemukan video variasi yang cocok mereka langsung menjiplaknya.

WAW!

Menjiplaknya.

Tapi saya ndak mau mbahas masalah jiplak-menjiplak ini, saya hanya tertarik pada hal-hal yang memicu hal ini terjadi.

Dan hal yang paling besar, yang paling berpengaruh terhadap tindakan ini adalah alergi kalah.

Kalah itu memalukan.

...katanya.

Kenapa? Karena pasti banyak akan ejekan dari pangkalan lain, kompetitor, rival, atau apalah itu namanya jika menelan kekalahan.

Tapi, taukah kamu jika kamu dan pangkalanmu kalah maka itu adalah sebuah anugerah.

Anugerah kalah jauh lebih berharga daripada anugerah kemenangan.

Dengan kekalahan, kita sebagai seorang paskibra bisa mengintropeksi jauh lebih dalam dan intens ketimbang mereka yang menang.

Sangat sedikit pangkalan yang melakukan intropeksi saat mereka mendapatkan kemenangan. Rata-ratanya sih udah pada jalan ndangak pas pulang.

Saya sering bertanya-jawab dengan diri saya kurang lebih begini....

"Kita sudah menang. Kita sudah dipuncak. Lalu, apa yang kita lakukan setelah ini? Ikut lomba, lomba, dan lomba lagi? Sampai capek dan hanya berakhir dengan puluhan piala, uang pembinaan, dan kebanggaan yang tidak dapat dijual di saat butuh beras? Atau sampai dapat ratusan like, viewers, dan follower di jejaring sosial?"

"Tidak. Jangan begitu. Kita harus mencari sesuatu yang baru dan berjuang kembali dari nol di sana. Apa itu?"

"Pengembangan diri dan pendidikan karakter adek-adek. Ini bisa bermanfaat bagi mereka kedepannya daripada cuma praktek baris. Menang lomba bukan fokus utama lagi. Karena jikapun menang itu sudah biasa. Ini tahap lanjut setelah selalu menang. Ya, walaupun ini sangat samar dan susah."

"Beruntung juga, bagi mereka yang belum pernah menang sekalipun. Mereka tidak perlu bingung mau ngapain. Targetnya menang. Dalam perjalanan mereka ini, mereka lebih banyak belajar ketimbang yang satu dua kali maju sudah dapat kemenangan. Dan yang perlu digaris bawahi, apa yang mereka dapatkan selama proses ini adalah anugerah. Tuhan itu adil."

Hmm...

Bagaimana? Masih ingin selalu menang?

Saya rasa masih.

Terserah aja deh....

Wednesday, November 1, 2017

Jahatnya Pola Pikir

Jahatnya pola pikir

Pagi ini saya berkesempatan untuk nongkrong di warung pinggir jalan yang kini sering jadi tempat tongkrongan saya.

Seperti biasa, banyak teman saya bercanda ngalor-ngidul.

Saya menikmatinya, dan tiba-tiba smartphone jadul saya berbunyi kembali semenjak event mbak hanna berlalu.

"Hari ini si A menang. Kita kapan lagi?", kubatin pesan yang masuk.

Sejenak aku memandang langit, mengingat kembali masa-masa itu. Masa dimana saya masih belum ketemu anak-anak jaman now.

Sambil mengambil segelas es teh, saya ketikkan, "Puji Tuhan, si A memang pantas menang. Dia sudah lama menunggu momen ini."

Ting tung tong ting. Bunyi smartphoneku lagi.

"Ah. Padahal kan lebih bagus kita. Andaikan kita yang ditunjuk.", balas temanku.

"Hmm. Inilah jahatnya pola pikir.", begitu pikirku sambil mematikan smartphoneku.

Kubiarkan temanku ini bercerita kepada dirinya, agar dia bisa lebih mengetahui makna-makna kehidupan lebih dalam.

Meskipun bagaimana bentuknya "dia yang menang" di hari biasa, manusia hanya mampu melihat hasil akhir.

Dia sombong, dia selalu mencari kesalahan orang lain, dia hanya bisa mengeluh dengan aturan, dan dia hanya bisa menganggap remeh orang lain dan selalu curiga, tidak ada yang peduli.

Tapi syukur dia menang. Jadi dia tidak menyalahkan orang lain dulu.

Masak ada orang yang mau nyalahin orang lain begini begitu saat dia dapet nilai 100?

Glegeeeekk....

Es tehku kok dah habis.... Dikit banget.....

"Ampassss.... Salah...."