Monday, February 27, 2017

Kenapa Kamu Menyerah?

Jangan menyerah

Tadi saya duduk di bawah teduhnya beranda rumah.

Saya melepaskan pandangan ke langit dan menemukan luar biasa telah terjadi.

"Kenapa hal ini bisa terjadi?" #Bergumam sambil melihat ke awan yang bergerak cepat

Saya seperti melihat bayangan masa kecil saya.

Awan-awan di langit membimbing saya lebih jauh lagi menyelami setiap masa bahagia saya.

Setiap pencapaian, setiap keberhasilan, setiap penghargaan, bahkan setiap tawa teman-teman.

Lama saya mengingat itu.

Tiba-tiba, saya bertanya di benak saya, mengapa saya bisa mendapatkan itu semua?

Lantas, awan-awan itu membimbing saya lagi tapi membimbing saya menuju mendung.

Mendung yang berbeda dari biasanya.

Mendung ini membuat saya mengurutkan setiap kisah yang tercipta.

Saya menemukan ingatan itu.

Dulu saya masuk ke dalam pusaran hujan yang deras.

Meninggalkan rasa nyaman memeluk guling dan bantal kesayangan di kamar.

Saya berjalan menuju tempat si Dia berada.

Di tempat yang di isi dengan orang-orang besar, saya lalu berlari dan berusaha mengambil Dia.

Semuanya kalah.

Saya menang.

Saya membawa Dia pulang untuk menggantikan guling dan bantal kesayangan.

Karena keberhasilan itu, saya tidak peduli lagi jika terus menerjang hujan.

Yang penting bisa membawa Dia pulang lagi dan lagi.

Hmm. Saya pernah tidur dengan Dia beberapa kali.

#Duargedergedergeder

Tiba-tiba saya terbangun dari lamunan saya.

Saya jadi merasa rindu Dia.

Saya ingin memeluknya lagi saat hujan atau panas.

Tapi, apa daya.

Saya sekarang terlalu lemah untuk berlari dan bertarung.

Sekarang saatnya saya memeluk guling dan bantal kesayangan sambil menunggu WA dari mereka.

...ketika mereka berhasil membawa Dia pulang untuk dipeluk.

Leeee kumbahane dintasi sik!! Cah lanang, ewangi Ibuke!!

Hiyo mbok yuuu.... #ngentasi pemean

Ayo berkomentar! :)

Ungkapkan pendapatmu!
EmoticonEmoticon