Wednesday, November 1, 2017

Jahatnya Pola Pikir

Jahatnya pola pikir

Pagi ini saya berkesempatan untuk nongkrong di warung pinggir jalan yang kini sering jadi tempat tongkrongan saya.

Seperti biasa, banyak teman saya bercanda ngalor-ngidul.

Saya menikmatinya, dan tiba-tiba smartphone jadul saya berbunyi kembali semenjak event mbak hanna berlalu.

"Hari ini si A menang. Kita kapan lagi?", kubatin pesan yang masuk.

Sejenak aku memandang langit, mengingat kembali masa-masa itu. Masa dimana saya masih belum ketemu anak-anak jaman now.

Sambil mengambil segelas es teh, saya ketikkan, "Puji Tuhan, si A memang pantas menang. Dia sudah lama menunggu momen ini."

Ting tung tong ting. Bunyi smartphoneku lagi.

"Ah. Padahal kan lebih bagus kita. Andaikan kita yang ditunjuk.", balas temanku.

"Hmm. Inilah jahatnya pola pikir.", begitu pikirku sambil mematikan smartphoneku.

Kubiarkan temanku ini bercerita kepada dirinya, agar dia bisa lebih mengetahui makna-makna kehidupan lebih dalam.

Meskipun bagaimana bentuknya "dia yang menang" di hari biasa, manusia hanya mampu melihat hasil akhir.

Dia sombong, dia selalu mencari kesalahan orang lain, dia hanya bisa mengeluh dengan aturan, dan dia hanya bisa menganggap remeh orang lain dan selalu curiga, tidak ada yang peduli.

Tapi syukur dia menang. Jadi dia tidak menyalahkan orang lain dulu.

Masak ada orang yang mau nyalahin orang lain begini begitu saat dia dapet nilai 100?

Glegeeeekk....

Es tehku kok dah habis.... Dikit banget.....

"Ampassss.... Salah...."

Ayo berkomentar! :)

Ungkapkan pendapatmu!
EmoticonEmoticon